Postingan

Cara Membuat Visa ke Taiwan

Pengalaman adalah guru yang sangat berharga, kalo menurut saya akan lebih berharga jika juga dibagikan ke orang lain. Hehe Baiklah, kali ini saya mau berbagi tentang pengalaman membuat visa untuk tujuan konferensi ke Taiwan. Situs resminya ini kalau kalian mau tau informasi lebih detailnya. Atau bisa langsung ke sini kalau mau langsung "njujug" ke persyaratan visa. Di link yang kedua ini teman-teman bisa nemu juga persyaratan pembuatan visa untuk keperluan yang lainnya misalnya untuk turis, berobat, kuliah, kunjungan keluarga atau bahkan menikah, hehehe. Pokoknya komplit ya, sesuaikan dengan kebutuhan kalian.  Sebenarnya di situs yang saya cantumkan tadi sudah jelas tentang syarat dan lokasi kedubes, tapi boleh lah saya review sedikit walaupun tulisan ini saya lebih banyak bercerita hal-hal yang nggak teman-teman dapat dari website. Well, saya membuat visa single entry pada tanggal 15 November 2018 lalu dengan biaya 700.000 rupiah di gedung Taipei Economic and...

Pengalaman Seleksi LPDP (Berhasil dan Gagal, LPDP Luar Negeri dan Dalam Negeri)

Hai Fellas! Akhirnya saya tulis juga pengalaman saya mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Tulisan ini adalah hasil berkontemplasi dari pengalaman pribadi saya ketika sebanyak 2 kali mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Sebanyak 2 kali, saya merasakan tangisan sedih karena gagal dan juga tangisan bahagia karena akhirnya berhasil. Gagal atau berhasil, keduanya pelajaran yang bisa dihindari atau dilakukan oleh teman-teman. Semoga tulisan saya bermanfaat dan mampu menginspirasi teman-teman semua. Pengalaman Gagal, LPDP Dalam Negeri Tepatnya tahun 2015, setelah lulus kuliah dan wisuda bulan september, saya mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Persiapannya bisa dibilang sangat singkat, karena saya wisuda bulan september lalu langsung mengikuti seleksi LPDP batch 4 2015 dengan berbekal nekat. Waktu itu seleksi LPDP terbagi menjadi seleksi administrasi dan seleksi substantif. Dimana dalam seleksi administrasi terdapat syarat salah satunya harus mengirim essay tentang kesuksesan terbesar, kontribusi b...

Movie Review

It isn't the new one movie, but i got a great lesson after i watched it. Here we go! Title : 21 Ben Campbel is the main subject of “Twenty One” movie. He is the student of MIT that has willingness to continue his study in Hardvard University. Financial is his big problem to obtain it. He applies a scholarship to solve it, but a hard question comes from the examiner when he do scholarship interview. “Why I should give this scholarship for you? The previous awardee was the extraordinary person with just one leg. So, what is the strong reason for me to give it for you?” Ben tells his previous struggle to answer this question. When he was in the last year in MIT, he worked in a clothes shop and saved the money to prepare continuing study in Hardvard. Once time, the lecture was amazed of Ben because of his brilliant. He was chosen by his lecture to follow a group that did a secret job. This job used the Ben bright brain to count the card in the Casino games to win the money. ...

Waktu

Tak ada yang lebih tegas selain waktu ia berlalu dan tak pernah kembali bahkan hanya sedetik pun Tak ada yang lebih cepat selain waktu ia berjalan begitu saja tanpa berhenti bahkan sekalipun aku mati Aku perlu ingat akan ada fase selanjutnya setelah sebuah fase terlewat maka harus ku lalukan yang terbaik untuk saat ini ku lakukan dengan efektif aku tahu, fase ini mungkin tidak akan kembali ia bagian dari proses ia bagian dari waktu waktu yang tegas tak pernah kembali dan waktu yang cepat tak pernah menanti

Summer in South Korea

Gambar
Agustus 2014 lalu, akhirnya salah satu impianku "go abroad" tercapai. alhamdulillah. Berbagai macam masalah dan tantangan sebelum keberangkatan bikin aku lebih bijak dalam menyikapi rejeki Allah yang satu ini. Mulai dari ujian ngurus berkas ke luar negeri (visa, surat dari IPB, tiket pesawat) sampai hal-hal teknis kayak nukerin uang, prepare apa-apa yang perlu disiapin, dan lain-lain yang-bisa dibilang, sangat amat melatih kesungguhan dan kesabaran. Tapi Allah sayang aku. Allah sayaaaang banget sama aku. Kerasa banget banyak tangan-tangan yang membantu dari sana-sini. Mulai dari orang terdekat (Khovivatul Istiqomah yang nganterin nuker uang ke seantero money changer di Bogor, Mbak Tia, Mbak Zahra, Rumah apel dan teman yang ga bisa disebutin satu-satu), sampai orang yang ga pernah aku kenal sedikitpun sebelumnya (Bapak sopir Taksi yang nganter aku dari kedubes Korea ke banda Sukarno Hatta). Mereka adalah panjang tangan Allah untuk mempermudah urusanku. Sayang Al...

Hidup itu pilihan

Seperti layaknya air yang memilih jalannya sendiri, ia tak pernah memaksa lurus ketika melewati batu, kayu atau apapun yang ada di depannya. Ia memilih jalannya sendiri, tanpa memecah batu, memotong kayu, atau hal lain di depannya, tanpa menyakiti apapun yang menghalangi. Se simple itu pilihan, tak perlu memaksa kehendak untuk tetap apalagi dengan menyakiti orang lain dihadapan kita. Kita hanya perlu berjalan seperti air, bukan pada filosofi berjalan ke tempat yang lebih rendah, tapi pada filosofi mengikuti alirannya yang tak pernah mengusik yang lain. -Faperta, 08.40, setelah jogging pagi

Cara membuat visa untuk ke Korea

Ini pengalaman saya pertama kalinya akan berangkat ke luar negeri untuk sebuah acara konferensi yang didalamnya saya harus mempresentasikan hasil paper yang sudah saya buat. Secara langsung ini pengalaman pertama saya membuat visa. Dan tentu saja saya tidak ingin pengalaman ini menjadi Pembelajaran hanya untuk diri saya. Tepatnya pada hari Jum’at 15 Agustus 2014 lalu. Sengaja saya tulis tanggalnya supaya menjadi referensi yang bisa dipertimbangkan teman-teman pembaca, apakah tulisan saya masih relevan atau sudah tidak. Semoga bermanfaat J Jadi hari itu saya berangkat pagi-pagi menuju kantor kedubes Korea di Indonesia yang beralamatkan di Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav.57, Jakarta Selatan. Akses ke tempat ini terbilang cukup mudah dengan menaiki kendaraan umum, tergantung darimana teman-teman berasal J . Saya berangkat dari Bogor sekitar pukul 6 karena begitu banyak kendaraan umum yang harus saya naiki, diantaranya angkot, KRL dan juga trans Jakarta. Saya juga mempertimbangkan mac...