Summer in South Korea
Agustus 2014 lalu, akhirnya salah satu impianku "go abroad" tercapai. alhamdulillah.
Berbagai macam masalah dan tantangan sebelum keberangkatan bikin aku lebih bijak dalam menyikapi rejeki Allah yang satu ini. Mulai dari ujian ngurus berkas ke luar negeri (visa, surat dari IPB, tiket pesawat) sampai hal-hal teknis kayak nukerin uang, prepare apa-apa yang perlu disiapin, dan lain-lain yang-bisa dibilang, sangat amat melatih kesungguhan dan kesabaran.
Berbagai macam masalah dan tantangan sebelum keberangkatan bikin aku lebih bijak dalam menyikapi rejeki Allah yang satu ini. Mulai dari ujian ngurus berkas ke luar negeri (visa, surat dari IPB, tiket pesawat) sampai hal-hal teknis kayak nukerin uang, prepare apa-apa yang perlu disiapin, dan lain-lain yang-bisa dibilang, sangat amat melatih kesungguhan dan kesabaran.
Tapi Allah sayang aku. Allah sayaaaang banget sama aku. Kerasa banget banyak tangan-tangan yang membantu dari sana-sini. Mulai dari orang terdekat (Khovivatul Istiqomah yang nganterin nuker uang ke seantero money changer di Bogor, Mbak Tia, Mbak Zahra, Rumah apel dan teman yang ga bisa disebutin satu-satu), sampai orang yang ga pernah aku kenal sedikitpun sebelumnya (Bapak sopir Taksi yang nganter aku dari kedubes Korea ke banda Sukarno Hatta). Mereka adalah panjang tangan Allah untuk mempermudah urusanku.
Sayang Allah gak hanya berhenti sampai sebelum aku berangkat, pas udah sampai Korea pun Allah masih mengirimkan panjang tangannya untuk mempermudah urusanku. Panjang tangan Allah itu adalah sebuah keluarga kecil dengan 5 orang anggota yang ga pernah aku kenal bahkan ketemu sebelumnya. Keluarga mbak Pipit, seorang warga negara Indonesia yang tinggal sementara waktu di Korsel buat nemenin suaminya (mas Yoga) yang lagi menempuh S2. Beberapa hari nginep disana, gak cuma tempat tidur yang rela mereka bagi, mereka juga berbagi makanan, keceriaan, waktu dan kehangatan sebuah keluarga. Ini memang hal menarik yang memang aku harus cerita, biar kita bisa mengambil pelajaran bagaimana memperlakukan seseorang dengan baik. Bayangin aja, siapa aku, kami baru bertemu di Korea dan keluarga mbak Pipit sangat hangat menyambut kami. Bahkan kami sampai merasa itu juga rumah kami dan mereka juga keluarga baru kami. Begitu hangat dan bersahabat. Semoga kebaikan mereka terbalas dengan kebaikan yang lebih baik dan lebih baik lagi.
Oya, tadi aku cerita 'kami' dalam cerita numpang di rumah mbak Pipit karena memang aku ga sendiri disana. Kami ada berempat, aku, Juliansyah Anita Yunus (mahasiswi UNAN), Rakhma K. Jannah dan mbak Maya P (mahasiswi UGM). Mereka bertiga itu juga tangan panjang Allah untuk mempermudah urusanku. Aku kenal mbak Pipit dari Anita, dan aku bisa jalan-jalan dan pulang dengan selamat di Korea bareng mbak Rakhma dan mbak Maya. Kami jalan-jalan malam bersama, menjelajahi Daejeon di malam hari, lebih tepatnya Rodeo Street. Dannn, rejeki kami malam itu, kami dapet traktir es krim BR dari Pak Cahyadi dan smoothy dari Pak Anata. Kami juga sempet iseng-iseng masuk di toko kosmetik negeri oplas dan sesekali nyoba testernya. Benar-benar rejeki kami malam itu.hehehe
![]() |
| Anita - Mbak Maya, aku, mbak Rakhma |
hmm...Ada hal menegangkan ketika aku, mbak Maya dan mbak Rakhma pulang. Hari itu siangnya kami jalan-jalan ke Seoul Station, pasar Namdaemun, beli Hanbok dan tempat seru lainnya sampai sore. Setelah sore, kami memutuskan untuk langsung ke bandara dan tidur disana malam harinya karena pesawat kami ke Indonesia berangat besok paginya jam 7. Persiapan pulang, kami mengambil koper yang kami simpan di loker Seoul Station, kemudian kami isi ulang e-money untuk naik kereta. Dan malam itu, kami SALAH NAIK KERETA. Kami tersesat di negeri orang. Harusnya kami naik kereta jalur 1 ke Incheon International Airport, tapi kami naik kereta ke arah Incheon (aja). Hahahaha. sebagai orang awam dan asing kami tidak tau kalau itu jurusan yang berbeda.
Kami baru nyadar saat udah sampai di stasiun pemberhentian terakhir, stasiun Incheon. Kami panik karena ga ada tanda-tanda bandara di sekitar situ. Kamipun coba untuk bertanya menggunakan bahasa inggris pada nenek-nenek yang ada disamping kami. Beliau hanya menerka-nerka pertanyaan kami, karena tak ada satupun bahasa inggris yang keluar dari mulutnya. Tapi agaknya beliau paham apa maksut kami, beliau berkata "aniyo" berkali-kali lalu berbicara pada sepasang pemuda yang sedang duduk di kursi depan. Sepasang pemuda itu menunjukkan pada kami jalur kereta yang harus diambil dengan bahasa inggris yang terbata-bata. Memang bahasa inggris kami juga tidak begitu bagus, tapi jika dibandingkan, bisa dibilang kedua pemuda itu lebih parah daripada kami. tapi bagaimanapun mereka adalah tangan panjang Allah untuk memudahkan perjalanan kami. Akhirnya kami naik kereta yang berlawanan arah untuk kembali dan turun di stasiun yang mereka sarankan, yaitu Bupyeong. Setelah sampai di Bupyeong, kami mencari jalur ke arah stasiun Gyeyang. Tapi betapa paniknya kami malam itu, hingga kami lebih payah daripada keledai. Kami SALAH LAGI mengambil jalur kereta. Kami sudah hampir patah semangat karena waktu sudah sangat larut dan sebentar lagi tidak ada kereta yang beroperasi. Akhirnya kami turun di stasiun selanjutnya, kemudian naik kereta yang kembali menuju Bupyeong. Sudah sampai di Bupyeong, kami berhati-hati kembali agar tidak salah jalur, kami bertanya pada seorang pemudi yang sedang asik dengan headsetnya. Awalnya hopeless setelah pengalaman bertanya sebelumnya kami harus bekerja keras menjelaskan pertanyaan kami. Tapi ternyata pemudi itu nyambung dengan bahasa inggris yang kami ucapkan bahkan dia mengantarkan kami ke line kereta yang menuju Gyeyang. betapa Allah mempermudah urusan kami malam itu, telat 30 menit saja, kami tidak akan bisa menuju Gyeyang untuk transit kereta lagi ke arah Incheon International Airport.
Akhirnya kami sampai di Gyeyang dan menunggu Arex Express yang membawa kami dari Gyeyang sampai Incheon International Airport. Setelah sampai di airport akhirnya kami mencari tempat sepi untuk kami tidur, dimana malam terakhir perjalanan di Korea akan kami habiskan.
Cerita berlanjut di bandara, ketika kami ingin sholat. Kami mencari-cari tempat yang ada tulisan "Praying Room". Setelah kami cek, ternyata dari beberapa praying room, tak ada satupun praying room untuk agama kami. Sempat ada ide gila dari mbak maya, "yaudah kita sholat aja di salah satu praying room itu." hahahaha
Aku dan mbak rahma pun hanya bisa tertawa dan menerima kenyataan untuk sholat dibawah tangga lantai 1 bandara Incheon. Kami benar-benar lelah malam itu sampai-sampai bangku panjang di bawah tangga yang letaknya dideket toilet, malam itu terasa bagai hotel bintang banyak yang bisa menina bobokan kami. Kami tidur pulas sampai akhirnya bangun, sholat subuh dan check in.
Aku dan mbak rahma pun hanya bisa tertawa dan menerima kenyataan untuk sholat dibawah tangga lantai 1 bandara Incheon. Kami benar-benar lelah malam itu sampai-sampai bangku panjang di bawah tangga yang letaknya dideket toilet, malam itu terasa bagai hotel bintang banyak yang bisa menina bobokan kami. Kami tidur pulas sampai akhirnya bangun, sholat subuh dan check in.
Bagaimana Allah tidak sayang dengan semua bukti cintanya yang bertubi-tubi datang kepadaku ini?
Pengalaman yang begitu berharga, yang benar-benar tidak bisa ditukar dengan suatu apapun. Banyak sekali nilai-nilai dan ibroh yang bisa diambil. Allah mendidikku lewat cobaan dan nikmat yang ia berikan selama perjalanan lalu. Pendidikan kesabaran atas cobaan dan pendidikan syukur atas nikmat-nikmat yang bertubi-tubi.
Tiada skenario yang lebih indah yang mampu menandingi skenario dari Sang Maha Pencipta Skenario. :D
Tiada skenario yang lebih indah yang mampu menandingi skenario dari Sang Maha Pencipta Skenario. :D

Komentar
Posting Komentar