Pengalaman Seleksi LPDP (Berhasil dan Gagal, LPDP Luar Negeri dan Dalam Negeri)

Hai Fellas!
Akhirnya saya tulis juga pengalaman saya mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Tulisan ini adalah hasil berkontemplasi dari pengalaman pribadi saya ketika sebanyak 2 kali mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Sebanyak 2 kali, saya merasakan tangisan sedih karena gagal dan juga tangisan bahagia karena akhirnya berhasil. Gagal atau berhasil, keduanya pelajaran yang bisa dihindari atau dilakukan oleh teman-teman. Semoga tulisan saya bermanfaat dan mampu menginspirasi teman-teman semua.

Pengalaman Gagal, LPDP Dalam Negeri
Tepatnya tahun 2015, setelah lulus kuliah dan wisuda bulan september, saya mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Persiapannya bisa dibilang sangat singkat, karena saya wisuda bulan september lalu langsung mengikuti seleksi LPDP batch 4 2015 dengan berbekal nekat. Waktu itu seleksi LPDP terbagi menjadi seleksi administrasi dan seleksi substantif. Dimana dalam seleksi administrasi terdapat syarat salah satunya harus mengirim essay tentang kesuksesan terbesar, kontribusi bagi indonesia dan rencana studi. Tips untuk menulis ketiga essay syarat LPDP ini adalah: sebisa mungkin apa yang kita tuliskan (misal tentang pekerjaan,rencana, ataupun cita-cita) bukan melulu soal diri kita sendiri. Jika tentang cita-cita, ceritakan dengan rasional dan harus tahu juga gimana cara mewujudkan. At least dalam teorinya dulu harus tahu dan yakin ilmu/cara mewujudkan cita-cita yang kita tuliskan, walaupun nanti dalam aplikasinya kita pasti menemukan sederet halangan dan rintangan, yang penting kita yakin dulu teorinya.

Tips lainnya dalam menyiapkan administrasi, pokoknya sebisa mugkin dibaca dengan jelas apa saja syaratnya dan lengkapi se-rapi-rapinya dan se-lengkap-lengkapnya. Udah itu aja, abis itu banyakin doa.

Sampai tahap administrasi saya masih aman, masih lolos. Lalu ketika sudah tahap seleksi subtantif, saya gagal. Benang merah dari kegagalan saya saat itu adalah karena kurangnya persiapan, sehingga segala yang saya sajikan kepada pewawancara terkesan ala kadarnya. Salah satunya yaitu mengenai kampus tujuan, saya ditanyai oleh interviewer apakah sudah mencari tahu tentang program studi kampus tujuan? jawaban saya waktu itu adalah sudah, karena saya memang sudah membaca sekilas, namun saat ditanya dosen yang akan diminta sebagai pembimbing saya gelagapan jawabnya. Selain itu saya juga ditanya tentang essay rencana studi yang memuat topik penelitian. Saya juga 'engap' karena belum baca lebih jauh tentang topik itu, ditambah lagi judul skripsi saya ga ada sangkut pautnya sama sekali dengan topik yang saya ajukan.

Oya, saya ingat satu momen dimana saya ditanya, kurang lebih begini:
Interviewer: "kamu lulusan meteorologi, pawang hujan dong ya?"
saya: "Bukan pak, kalau meteorologi itu prediksinya menggunakan ilmu, tidak seperti pawang hujan yang pakai tahayul."
Saya ambil pelajaran karena nada bicara saya yang seperti membela diri ketika diserang. Pokoknya saya kesannya defensif banget, padahal kan si interviewer cuman nanya, dan bisa jadi dia juga berniat tanya begitu untuk melihat tingkat kedewasaan saya.
Otomatis dengan jawaban sayya yang seperti itu, sangat terlihat bahwa saya masih 'cupu' dalam hal kedewasaan.

Setelah keluar pengumuman, hati saya remuk redam. Dengan kondisi yang sedang berada di titik bawah seperti itu, berbagai hal jadi terkesan serba negatif (baper maksimal). Bahkan orang bertanya jadi terkesan menghakimi. "mbak Anis, saya dengar kabar katanya mau kuliah lagi, gimana mbak kuliahnya?" autotranslate menjadi "mbak, ngapain sih punya mimpi kuliah lagi? lagian gagal juga beasiswanya, udahlah sana nyari kerjaan aja daripada nganggur!" 
hahaha, that's so awful but so true. Bagi kalian yang menemukan teman atau saudara yang sedang di titik terendah, hati-hati dengan pertanyaan kalian. hahaha

Lanjut ke pengalaman selanjutnya....

Pengalaman Berhasil, LPDP Luar Negeri
Untuk pengalaman yang ini, saya mengikuti seleksi batch 3 2016 untuk kampus tujuan luar negeri. Sebenarnya menurut pengalaman saya, baik luar negeri maupun dalam negeri sama saja harus menyiapkan dengan matang segala sesuatunya, termasuk kematangan kedewasaan dan juga kematngan rencana. Sekali lagi ini tulisan hasil kontemplasi saya, karena sesungguhnya sampai saat ini tidak diketahui aspek apa saja yang dinilai di setiap prosesnya.

Perubahan yang saya lakukan dalam tes ke-dua ini lebih banyak ke penguatan mental dan pemantapan tujuan saya untuk kuliah lagi, khususnya dalam mempersiapkan tes substantif. Saat itu saya krisis keyakinan dan percaya diri. Haha. Jadi waktu itu saya berusaha belajar ielts di kampung inggris pare untuk mendapatkan basic skill untuk menulis essay yang baik, karena salah satu subtesnya yaitu on the spot essay writting. Selain itu saya banyak membaca isu terkini dan memiliki satu buku kecil yang saya pakai untuk merangkum isu-isu tersebut.

Untuk persiapan tes wawancara, saya banyak mengunduh video-video interview beasiswa di youtube dengan bahasa inggris. Saya juga cari info bagaimana body gesture yang direkomendasikan saat wawancara, dan lain-lain. Saya juga sering baca pengalaman wawancara dan mengaplikasikan yang menurut saya penting. Oya, di tes wawancara yang kedua ini saya ingat saya berkali-kali ditanya apakah yakin mau kuliah lagi? kalau ga ketrima mau ngapain? Saat itu jawaban saya, kalau gak ketrima LPDP, saya tetep berusaha mencari cara agar tetep bisa kuliah lagi. Haha, jawaban ngeyel, tapi yang saya tangkap dari pertanyaan interviewer, beliau hanya ingin  memastikan kita niat atau sekedar nyari-nyari peluang.

Sub tes yang paling menarik bagi saya yaitu LGD (Leaderless group discussion). Yepp, yang saya pahami ketika melakukan tes ini, dinamika kelompok harus dijaga. Selain produktivitas kelompok dalam menyalurkan ide-ide, attitude masing-masing orang juga harus diperhatikan. Saya banyak membaca bagaimana cara diskusi yang benar, contohnya yaitu menatap dan memperhatikan orang yang sedang berbicara, tidak menyela, jika tidak setuju sampaikan dengan baik. Kemudian fokus kita juga sangat penting, karena konon katanya jika kita mau memberi argumen, sebaiknya kita juga membahas argumen dari orang yang sebelumnya sudah memaparkan argumennya. Kalau secara manusiawinya, ketika kita membahas ide orang sebelumnya, artinya kita memperhatkan dan menghargai ide tersebut. Makanya saat itu saya mencatat masing-masing argumen dari teman-teman, plus namanya juga.

Jadi....
Apakah tercerahkan?
walaupun sekarang seleksi beasiswa ini ada sedikit perubahan tata cara, semoga tulisan saya ada manfaatnya. Semoga sukses.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara membuat visa untuk ke Korea

Sebut Saja Outbound (bukan istilah sebenarnya)