Menjaga Kesehatan Mental: pelajaran hidup di tanah rantau, di tengah pandemi

Dibalik jendela kamar lantai sembilan ini, ada pemandangan warna warni daun di musim gugur yang memukau. Sesekali kawanan gagak datang bersambut suara saling sahut menyahut. Aku duduk santai, memandang jauh keluar jendela, sesekali menengok ke arah kiri di meja belajarku. Ahh, tumpukan paper untuk menyusun proposal penelitian thesis ku. Ironinya, pandanganku kembali keluar, menembus jendela kaca yang tidak terlalu bersih ini. Alih-alih menikmati pemandangan, malah selintas berfikir, apa fokus utamaku disini dan kenapa justru kehidupan sosial mendominasi isi kepalaku belakangan ini. 

Jika ditarik garis ke belakang, kesimpulanku banyak: dari yang kualami secara internal, masalah mental tidak bisa diremehkan. Hargai kondisi mental seseorang dengan segala issue nya, seremeh apapun itu di mata kita. Ukuran masalah tiap orang berbeda, menurut kita masalah sepele bisa jadi menurut orang lain masalah berat, yang sama adalah ketika orang sudah berada di kondisi mental terburuk maka yang mereka butuhkan adalah support dan didengar. 

Selain itu, dari sudut pandang diri sendiri juga: jangan terlalu menggantungkan kebahagiaan pada satu object. Once it's gone, your heart will be broken into pieces, because you have no back up of happiness' sources. Sebuah penelitian menemukan konsep ini juga berlaku dalam suatu hubungan, bahkan untuk hubungan ibu dan anak. Ibu yang terlalu fokus mengasuh anak dari bayi hingga dewasa, akan mengalami kondisi kehilangan yang mendalam ketika anaknya sudah mandiri, sehingga ada tendensi over protektif dan membuat hubungan keduanya toxic. Jadi sangat penting untuk memiliki banyak sumber kebahagiaan, contohnya memiliki hobi. Dalam hal pasangan, memiliki porsi yang seimbang antara hidup dengan pasangan dan bersosialisasi dengan teman juga akan membantu agar hubungan tidak menjadi toxic. 

Dari yang ku amati secara eksternal, orang dalam hidup kita banyak macamnya, jangan terlalu naif menganggap semua orang baik tanpa ada maksud. Demi kesehatan mental, tidak ada salahnya detoks diri dari lingkungan dan kondisi yang merusak kesehatan mental. Menarik diri tidak ada salahnya, karena menjadi sendiri dan bergantung pada diri sendiri bukanlah hal buruk. Membutuhkan orang lain juga tidak buruk. Mana saja, asal itu tidak merusak kesehatan mental mu. My task is, once i recognize a toxic in a condition or relation, then i must do something about that. How hard it is, i need to realize that and change. Apakah ini egois? Tidak, ini demi kesehatan mental diri sendiri, dan orang yang paling peduli dan bisa membantu untuk bangkit adalah diri sendiri. Ketika seseorang sudah sakit secara mental, pengaruhnya bisa ke performa bekerja, belajar, bahkan merusak hubungan sosial lain yang seharusnya baik-baik saja. Pengaruh itu nantinya kita sendiri juga yang akan bertanggung jawab. Jadi mengenali kondisi mental, akan membantu diri untuk memutuskan bertindak dan mengurangi resiko buruk yang terjadi di masa depan. Setelah mengenali kondisi mental, Mark Manson bilang, tahap awal untuk dapat kembali sehat kembali (secara mental) adalah, menerima kondisi yang sedang dialami. Sekali kita menolak dan menganggap diri baik-baik saja, maka itu pertanda kita sedang masuk ke lingkaran setan yang akan memperburuk kesehatan mental. Seorang psikolog juga berpesan bahwa denial is a kind of frenemy, you think you can be better because you deny your problems, but actually the denial will slowly destroy you. Jadi face it like a man, sadari bahwa diri sedang dalam keadaan tidak sehat, terima dan jalani fasenya, maafkan diri dan be your own supporter.

Dariku, yang masih menjadi pertanyaan adalah, apakah harus selalu hidup dengan was-was? Jujur saja aku tidak mudah percaya pada orang lain akhir-akhir ini. Orang lain datang, selalu dengan maksudnya. Menjadi terlalu baik kepada setiap orang tentu akan menjadi bumerang diri sendiri, karena banyak celah untuk dimanfaatkan. Sedangkan konsep saling membantu, bisa bias juga ketika kita tidak mendahulukan diri sendiri dan terlalu memprioritaskan orang. Lalu bagaimana perilaku kita seharusnya? (sampai terakhir menulis akhir kalimat ini, saya masih berpikir jawabannya, sambil mencoba mengembalikan fokus pada tujuan utama datang ke Belanda.)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Seleksi LPDP (Berhasil dan Gagal, LPDP Luar Negeri dan Dalam Negeri)

Cara membuat visa untuk ke Korea

Sebut Saja Outbound (bukan istilah sebenarnya)